Pustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra

Oleh Sahala Napitupulu Menyebut nama Pustaka Jaya, sekurang-kurangnya kita pasti akan teringat dua hal. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama sastrawan Ajip Rosidi, 71 tahun, yang dikenal sebagai sosok sastrawan yang produktif. Dia menulis dalam Bahasa Indonesia, tetapi sumbangannya pada sastra Sunda fenomenal. Pada usia belum 15 tahun dia sudah menerbitkan sebuah Selengkapnya tentangPustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra[…]

Pustaka Jaya dalam Ensiklopedia Jakarta

Pustaka Jaya lahir tahun 1971 di Jakarta atas saran Asrul Sani dan beberapa anggota DKJ yang menganggap perlu adanya penerbit buku-buku bermutu. Penerbitan buku-buku ketika itu mengalami kemacetan dan minat baca sangat lemah. Penerbitan Pemerintah tak ada yang bisa berbuat banyak, sementara dari kalangan swasta tidak ada yang berani tampil karena resikonya memang terlalu besar. Untuk mengisi kebutuhan itu, Ali Sadikin menyerahkan masalahnya Selengkapnya tentangPustaka Jaya dalam Ensiklopedia Jakarta[…]

Kenapa Kami Membicarakan Pustaka Jaya?

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger) Ali Sadikin bertanya kepada Ajip Rosidi, “Mengapa anak-anak sekarang tidak membaca buku? Mereka lebih suka membaca komik.” Ajip kemudian menjelaskan kondisi perbukuan yang tengah redup. Menurutnya, banyak penerbit yang terutama mendahulukan mencari keuntungan dengan hanya menerbitkan buku-buku yang dicari oleh masyarakat. Barangkali maksudnya hanya melahirkan buku-buku praktis dan tidak menerbitkan buku Selengkapnya tentangKenapa Kami Membicarakan Pustaka Jaya?[…]